Minggu, 18 Agustus 2013

Penggulingan Mursi dan Standar Ganda Demokrasi Barat- AS ( Arogansi Kekuatan Militer sebagai satu tyrani gaya baru yang diterapkan Barat )

137527729795539987
Foto : informationseducations.blogspot.com

artikel by: http://politik.kompasiana.com/2013/07/31/-penggulingan-mursi-dan-standar-ganda-demokrasi-barat-as-580869.html

Kudeta yang menggulingkan Pemerintahan Legitimate Mursi yang diperoleh melalui satu Pemilihan Umum yang Demokratis, adalah Arogansi Kekuatan Militer sebagai satu tyrani gaya baru yang diterapkan Barat. Alasan konyol bahwa penggulingan itu didasari Pemerintahan Mursi yang eksklusif, merupakan satu standar ganda yang diterapkan Kaum Kapitalis Liberal untuk memaksakan kekuasaan Kapitalis Militeristik terhadap Pemerintahan yang tidak bisa dikontrol, walaupun diperoleh secara Demokratis.
Adalah satu pernyataan yang konyol sekali, bahwa Penggulingan Mursi BUKAN KUDETA MILITER, hanya karena Posisi Mursi digantikan oleh Pemerintahan peralihan ( BONEKA ) dari kalangan sipil. Siapapun tahu bahwa Pemerintahan sipil itu hanya boneka yang segala kebijakan Pemerintahan dipegang sepenuhnya oleh Jenderal Al Sisi. Bukan satu rahasia pula, bahwa kudeta yang dilakukan Jendral Al Sisi didahului dengan “ RESTU PENTAGON “ bahwa Kudeta itu merupakan satu skenario Global melalui Demokrasi Barat standar ganda.
Demokrasi yang merupakan satu bentuk pengambilan keputusan suara rakyat melalui satu proses pemungutan suara, satu hal yang selalu didengungkan oleh Barat dengan kalimat sakral “ SUARA RAKYAT SUARA TUHAN “ kenyataannya hanya merupakan satu alat untuk melanggengkan kekuasaan MODAL dengan menggunakan kekuatan Militeristik. Inilah yang senyatanya terjadi. Tak satupun hasil keputusan rakyat yang akan didukung oleh Pegiat Demokrasi, bila akan bermuara pada adanya satu kekuatan yang tidak bisa dikontrol dan dikendalikan. Sebaliknya Para PEGIAT DEMOKRASI , tidak akan pernah berkeberatan terhadap Pemerintahan Monarchi Absolut, yang menindas rakyatnya sekalipun, bila Pemerintahan itu BERPIHAK kepada yang mengaku “ PEGIAT DEMOKRASI “
Amerika Serikat, yang oleh sebagian dari kalangan Masyarakat Indonesia dianggap sebagai MASTERNYA DEMOKRASI, sebagai acuan Pemerintahan Idaman itu, sebenarnya hanya satu Negara Kapitalis yang memaksakan DEMOKRASI sebagai acuan pengambilan keputusan terhadap satu Negara yang Merdeka, hanya sebagai alat untuk menguasai Pemerintahannya semata.
Amerika Serikat akan masuk kejantung semua kekuatan politik yang ada pada suatu Negara yang dituju, membiayai kekuatan Politik yang berseberangan, membangun Demokrasi semu kemudian menenggelamkan kekuatan Politik dalam HEDONISME DEMOKRASI. Hasil yang dicapai adalah, siapapun pemenangnya, akan bersimpuh menyusun sembah untuk mendapatkan “ PINJAMAN “ sebagai modal menyusun basis kekuatan Politik periode berikutnya. Demokrasi ini tidak akan pernah menghasilkan apa yang didengungkan sebagai “ SUARA RAKYAT SUARA TUHAN” bahkan menyentuhpun tidak. Akan tetapi yang terjadi adalah : “ SUARA KAPITAL - SUARA TUHAN” .
Bagaimana, apa bila Demokrasi benar-benar terujud dan suara rakyat tidak lagi bisa dikontrol?
Seperti yang terjadi di Mesir dimana rakyat secara mayoritas telah menentukan pilihan, SUARA RAKYAT telah memilih, sayangnya suara rakyat ini tidak bisa dikontrol maka standar gandapun diterapkan. Hanya dengan alasan MURSI membangun Pemerintahan secara eksklusif, maka Pemerintahan itu divonis layak untuk dijatuhkan. KUDETA PUN MENJADI JALAN KELUAR. Tak kenal lagi keabsahan adanya Partai Pemerintah dan Partai Oposisi.
Kejadian di Mesir merupakan satu peringatan terhadap Bangsa ini, terhadap yang masih setia terhadap Pancasila dan masih memperjuangkan Pancasila, bahwa apa bila Pancasila berhasil kita kembalikan sebagai LANDASAN DASAR FILOSOFI BERNEGARA, SEBAGAI LANDASAN FUNDAMENTAL IDEOLOGI BANGSA , bahwa bila UUD 45 dapat kita bersihkan dari benalu-benalu dan anasir ideologi Asing liberalis individualistik, Dihadapan kita akan terbentang Kejayaan Nusantara, akan tetapi itu akan berarti pula ANCAMAN INTERVENSI KAPITALISME seperti yang terjadi di Mesir, yaitu rekayasa kudeta dan ancaman berkobarnya perang saudara.
Karena Negeri ini telah banyak di isi oleh para PENGKHIANAT PANCASILA, yaitu kaum sekuler, liberalis dan kapitalis.
Benarkah Liberalisme, Kapitalisme dan Sekularisme pengkhianat Pancasila ?
Jawabnya terpampang dengan jelas pada artikel-artikel dibawah ini :

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More